Pertumbuhan Penduduk Dunia Meledak, Dunia Terancam Krisis

‘Bukan masalah jumlah penduduknya. Tapi apakah bumi dengan sumber dayanya yang terbatas, mampu menghidupi banyaknya manusia itu? Manusia terus-menerus berkembang biak, sementara sumber daya bumi semakin hari terus terkuras.’

MANUSIA di kawasan negara berkembang dan tertinggal, termasuk Indonesia, sebaiknya tidak usah mencetak banyak anak. Sebab, pertumbuhan penduduk dunia yang membengkak, akan memicu bumi kita ‘meledak’. Manusia dengan enaknya terus mereproduksi generasi dan lupa bahwa sumber daya bumi terbatas. Memacu anak saat ini sama dengan memicu krisis di masa depan.

Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) baru-baru ini, mencatat bahwa populasi dunia di tahun 2017 berjumlah 7,6 miliar. Jika proses ini awet, maka populasi dunia 2050 mendatang akan meledak hingga 9,7 miliar orang.

BERBAGAI SUMBER

Ledakan penduduk ini didorong karena umur rata-rata manusia yang kian panjang ditambah dengan angka kematian anak yang makin minim.

Jika pada tahun 1990, umur rata-rata manusia hanya sampai 65 tahun lalu wafat, kini usia hidup manusia mengalami peningkatan. Tahun 2017 ini, manusia rata-rata hidup sampai 70 tahun.

BACA JUGA: 78 Persen Penduduk Indonesia Terpusat di Jawa-Sumatera

Tahun 2045, harapan hidup manusia bahkan akan menembus 75 tahun. Sedangkan tingkat kematian anak-anak sebelum usia lima tahun, berkurang setengah bila dibandingkan kematian anak pada tahun 1990.

Makin banyaknya orang berumur panjang dan menurunnya angka kematian anak, merupakan fakta yang harus disyukuri. Hanya saja, apabila itu dibarengi dengan angka kelahiran yang tinggi, maka pertumbuhan penduduk akan membengkak pesat. Manusia bakal tambah membludak di bumi.

Bukan masalah jumlah penduduknya. Tapi apakah bumi dengan sumber dayanya yang terbatas, mampu menghidupi banyaknya manusia itu? Manusia terus-menerus berkembang biak, sementara sumber daya bumi semakin hari terus terkuras.

BACA JUGA: Jumlah Penduduk Indonesia 2017 Terbaru

Sejak beberapa dekade lalu, banyak ilmuan telah memperingatkan dampak dari bertambahnya populasi dunia. Mereka melakukan perbandingan antara laju pertumbuhan penduduk dunia dan keterbatasan sumber daya alam. Diambil kesimpulan bahwa populasi dunia harus dibatasi karena sumber daya bumi yang terbatas.

Analisa para pakar demografi, telah membuat banyak negara dunia melakukan penyesuaian. Mereka mulai membatasi angka kelahiran serta membuahkan kebijakan-kebijakan demogratif di bidang ekonomi dan sosial, budaya, serta lingkungan. Walau begitu, populasi dunia tetap saja melaju cepat hingga angka tujuh miliar.

BACA JUGA: Berapakah Jumlah Pemeluk Agama di Dunia?

Dalam prediksinya hingga tahun 2050, PBB mengakui bumi tengah menghadapi krisis serius. Laporan Prospek Populasi Dunia PPB edisi 2017, memperingatkan jumlah penduduk yang melaju pesat dan bahayanya bagi umat manusia di masa depan.

Di negara terkebelakang dan berkembang termasuk juga Indonesia, populasi yang membludak menjadi hambatan utama dalam pengentasan kemiskinan dan kelaparan.

PBB mencatat, pertumbuhan penduduk yang tidak diimbangi dengan ketersediaan makanan yang cukup, telah mengakibatkan setiap hari 25 ribu orang meninggal karena gizi buruk atau penyakit yang dipicu oleh kelangkaan makanan. Yang menyedihkan, di antara seluruh korban tersebut, 18 ribu adalah balita.

Lingkungan padat penduduk juga akan memicu beragam persoalan. Seperti masalah kesehatan, kepadatan, pengangguran, polusi udara, serta kriminalitas. Juga menimbulkan ancaman penyebaran wabah menular, peperangan, serta sengketa sumber daya alam.

Pertumbuhan penduduk juga tidak diimbangi dengan pasokan air bersih. Data Bank Dunia, pertumbuhan penduduk banyak terjadi di negara miskin yang tidak hanya kekurangan air bersih, namun juga kekurangan akses pendidikan dan kesehatan.

BACA JUGA: Penduduk Terbanyak Dunia, Negara Ini Bakal Kalahkan Cina. Posisi Indonesia?

Sengketa di Laut Cina Selatan saat ini menjadi contoh. Akibat populasi dunia melonjak, maka kebutuhan akan minyak oleh penduduk dunia kian meningkat. Tak heran, laut Cina Selatan yang disinyalir kaya akan minyak dan gas menjadi sumber konflik.

Akan tetapi, tidak semua negara harus membatasi jumlah anak. Sebab di negara-negara maju seperti Cina, di suatu masa terancam akan mengalami krisis penduduk usia produktif. Tak heran, Cina bergerak menghapus aturan hanya boleh punya satu anak.

Di belahan lain dunia juga, kebijakan membatasi angka kelahiran dianggap pelanggaran hak asasi manusia. Ledakan penduduk memang tidak melulu menjadi sebuah ancaman. Penduduk yang banyak tetapi berkualitas akan sangat bermanfaat bagi negara.

Karena dengan begitu, negara memiliki banyak agen berkualitas untuk kemajuan pembangunan. Namun jika populasi ini tidak berkualitas, ledakan penduduk akan menjadi beban bagi negara dan bisa menjadi bencana sosial.(red)

DOWNLOAD DATA 27

Loading...

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*