Jumlah Pengangguran di Indonesia Agustus Tahun 2017

BPS INDONESIA

‘Tren ini juga terjadi pada tiga tahun terakhir, di mana lulusan perguruan tinggi dan SMA/SMK, persentase menganggurnya selalu bertambah. Dapat disimpulkan, semakin tinggi pendidikan seseorang, tidak menjamin dia segera mendapatkan pekerjaan’

BERAPAKAH jumlah pengangguran di Indonesia tahun 2017? Nah BPS Indonesia sebagai lembaga resmi pemerintah, telah merilis angka-angka terbaru pengangguran pada November 2017 ini.

Jumlah angkatan kerja (penduduk 15-64 tahun) di Indonesia pada Agustus tahun 2017 adalah sebanyak 128,06 juta orang. Ini meningkat 2,62 juta orang dibanding pada Agustus 2016 (tahun lalu). Angkatan kerja adalah penduduk yang bekerja maupun pengangguran.

BACA JUGADaftar Upah Minimum Provinsi (UMP) di Indonesia Tahun 2018

Pada Agustus 2017, ada 121,02 juta orang penduduk yang bekerja. Sedangkan mereka yang tidak ada kerja alias menganggur mencapai 7,04 juta orang. Nah, apabila dibanding tahun lalu, jumlah penduduk bekerja bertambah 2,61 juta orang. Sedangkan tuna karya naik 10 ribu orang.

BPS INDONESIA

Jumlah angkatan kerja yang naik, tidak hanya menambah angka penganggur. Tetapi juga Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) meningkat. Pada Agustus 2017, TPAK tercatat sebanyak 66,67 persen. Ini meningkat 0,33 poin dibanding tahun lalu. Kenaikan TPAK ini, menurut BPS, memberikan indikasi kenaikan potensi ekonomi dari sisi pasokan (supply) tenaga kerja.

BACA JUGAPersentase Jumlah Pengangguran di Indonesia Tahun ke Tahun

Berdasarkan jenis kelamin, terdapat perbedaan TPAK antara laki-laki dan perempuan. Pada Agustus 2017, TPAK laki-laki sebesar 82,51 persen sementara TPAK perempuan hanya sebesar 50,89 persen. Dibandingkan dengan kondisi setahun yang lalu, baik TPAK laki-laki maupun perempuan mengalami kenaikan, masing-masing sebesar 0,54 poin dan 0,12 poin.

Loading...

Pengangguran Lebih Banyak di Kota

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Agustus 2016 sebesar 5,61 persen. Turun 5,50 persen pada Agustus 2017. TPT ini menjadi indikator yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat penawaran tenaga kerja yang tidak digunakan atau tidak terserap oleh pasar kerja.

TPT di perkotaan tercatat lebih tinggi dibanding di perdesaan. Pada Agustus 2017, TPT perkotaan sebesar 6,79 persen. Sementara TPT pada wilayah perdesaan 4,01 persen. Dibandingkan tahun lalu, TPT perdesaan turun 0,50 persen. Peningkatan terjadi pada perkotaan (0,19 poin).

Provinsi Paling Tinggi Angka Pengangguran

BPS INDONESIA

Dari sisi wilayah, provinsi dengan persentase pengangguran paling tinggi terdapat di Maluku yakni 9,29 persen. Pengangguran di Maluku naik drastis dibanding tahun lalu. Kenaikan mencapai 2,24 persen. Paling tinggi dari seluruh wilayah lain.

Di tempat kedua, Banten dengan angka pengangguran 9,28 persen. Meningkat 0,36 persen dibanding tahun lalu. Dan ketiga Jawa Barat 8,22 persen. Turun 0,67 persen dari tahun 2016 lalu.

BACA JUGAPenyebab Kemiskinan di Indonesia 2017, Rokok Urutan Dua

Persentase penduduk paling sedikit penganggur yakni di Bali 1,48 persen. Lalu berturut Sulawesi Barat 3,21 persen, Nusa Tenggara Timur 3,27 persen, Sulawesi Tenggara 3,30 persen, dan Nusa Tenggara Barat 3,32 persen. Sementara pengangguran di DKI Jakarta mencapai  7,14 persen. Naik 1,02 persen dibanding Agustus 2016 lalu.

Lulusan Perguruan Tinggi dan SMA/SMK Banyak Nganggur

Dari sisi pendidikan, pada Agustus 2017, TPT Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) adalah tertinggi di antara tingkat pendidikan lain, yaitu 11,41 persen. TPT tertinggi kedua Sekolah Menengah Atas (SMA) sebesar 8,29 persen. Dapat dilihat, ada banyak tenaga kerja yang tidak terserap. Utamanya pada tingkat pendidikan SMK dan SMA.

Mereka yang berpendidikan rendah justru cenderung mau menerima pekerjaan apa saja. Sebab, TPT SD ke bawah adalah paling kecil di antara semua tingkat pendidikan, hanya 2,62 persen. Dibandingkan kondisi tahun yang lalu, TPT mengalami peningkatan pada tingkat pendidikan Diploma I/II/III, Universitas, dan SMK, sedangkan TPT pada tingkat pendidikan lainnya menurun.

BPS INDONESIA

Tren ini juga terjadi pada tiga tahun terakhir, di mana lulusan perguruan tinggi dan SMA/SMK, persentase menganggurnya selalu bertambah. Dapat disimpulkan, semakin tinggi pendidikan seseorang, tidak menjamin dia segera mendapatkan pekerjaan.

Penyerapan tenaga kerja hingga Agustus 2017 menurut data, masih didominasi penduduk berpendidikan rendah (SMP ke bawah). Yakni 72,70 juta orang (60,08 persen). Sementara penduduk bekerja berpendidikan menengah (SMA sederajat) sebanyak 33,72 juta orang (27,86 persen).

BACA JUGAPenduduk Miskin Tertinggi di Indonesia Tahun 2017

Penduduk berpendidikan tinggi justru hanya 14,60 juta orang (12,06 persen). Mencakup 3,28 juta orang berpendidikan diploma lalu 11,32 juta orang berpendidikan universitas.

Dalam setahun terakhir, persentase penduduk bekerja berpendidikan menengah mengalami peningkatan. Pada Agustus 2016 27,52 persen, menjadi 27,86 persen pada Agustus 2017. Sedangkan persentase penduduk bekerja berpendidikan rendah dan tinggi, turun sebesar 0,16 poin dan 0,18 poin.

Sektor Apa Paling Banyak Menyerap Tenaga Kerja?

Kondisi ketenagakerjaan baik menyangkut tingkat pengangguran dan penduduk yang bekerja tidak terlepas dari kinerja sektor-sektor perekonomian yang ada. Jumlah penduduk yang bekerja pada tiap sektor menunjukkan kemampuan sektor tersebut dalam penyerapan tenaga kerja.

Berdasarkan lapangan pekerjaan utama pada Agustus 2017, penduduk Indonesia paling banyak bekerja pada sektor pertanian, yaitu sebanyak 35,93 juta orang (29,69 persen). Kemudian sektor perdagangan dan jasa kemasyarakatan. Yaitu sebanyak 28,17 juta orang (23,28 persen) dan 20,48 juta orang (16,92 persen).

BPS INDONESIA

Berdasarkan tren sektoral, pada agustus 2016–agustus 2017, sektor yang mengalami peningkatan persentase penduduk yang bekerja utamanya pada sektor industri (0,93 poin), perdagangan (0,74 poin), lalu sektor jasa kemasyarakatan (0,49 poin).

BACA JUGASatu Juta PNS Pensiun, Lowongan CPNS Makin Banyak

Sementara sektor-sektor yang mengalami penurunan adalah sektor pertanian (2,21 poin), pertambangan (0,10 poin), dan sektor konstruksi (0,01 poin).

Bukan Bos 39 Persen, Bos 61 Persen

Bos dalam artian ini merujuk pada penduduk yang berusaha sendiri, mandiri, dan penghasilannya tidak bergantung pada instansi pemerintah atau swasta. Nah persentase petarung sendiri ini adalah 19,13 persen.

Ada juga penduduk petarung yang dibantu orang lain sebesar 19,13 persen. Hanya saja, bos ini mempekerjakan buruh tidak tetap bahkan tidak dibayar. Ada juga penduduk yang berusaha mandiri dan usahanya itu dibantu keluarganya sebesar 12,26 persen.

BPS INDONESIA

Penduduk yang bekerja mandiri dan dibantu buruh tetap, atau boleh dikata professional, hanya memiliki persentase yang paling kecil, yaitu 3,26 persen.

Menyongsong bonus demografi, memang masyarakat Indonesia jangan hanya bergantung pada penawaran kerja pemerintah atau swasta. Lantaran, kuotanya pasti hanya terbatas. Dibutuhkan masyarakat kreatif yang menciptakan lapangan pekerjaan sendiri dan menjadi bos tentunya.

Meski Bekerja Tapi Belum Tentu Produktif

BPS INDONESIA

Angkatan kerja juga terbagi antara pekerja penuh dan pekerja tidak penuh. Indikator ini mampu menjelaskan bahwa seseorang yang bekerja ternyata tidak semua memiliki produktivitas yang tinggi, hal ini diindikasikan dari jam kerja rendah.

Pekerja tidak penuh terbagi menjadi dua kelompok, yaitu pekerja setengah penganggur dan pekerja paruh waktu. Persentase pekerja penuh pada Agustus 2017 sebesar 72,05 persen, sedikit menurun dibandingkan keadaan Agustus 2016 (72,78 persen).

BACA JUGAJumlah Penduduk Indonesia Tahun 2017

Sementara persentase pekerja tidak penuh sebesar 27,95 persen, naik 0,73 poin jika dibanding Agustus 2016 (27,22 persen). Pekerja setengah penganggur, persentasenya turun dari 7,58 persen menjadi 7,55 persen dalam setahun terakhir. Persentase pekerja paruh waktu naik dari 19,64 persen menjadi 20,40 persen.

Pekerja Tambang Bergaji Tinggi, Petani Upah Kecil

Rata-rata upah/gaji sebulan dari buruh/karyawan/pegawai pada Agustus 2017 sebesar 2,74 juta rupiah. Mereka yang bekerja pada sektor pertambangan dan penggalian adalah yang paling bergaji tinggi, yaitu sebesar 4,44 juta rupiah per bulan. Lalu sektor listrik, gas, dan air sebesar 3,92 juta rupiah per bulan. Upah terendah dialami petani, hanya sebesar 1,77 juta rupiah per bulan.

Rata-rata upah/gaji sebulan dari buruh/karyawan/pegawai laki-laki tertinggi sebesar 4,49 juta rupiah terdapat pada sektor pertambangan dan penggalian. Sedangkan terendah pada sektor pertanian, yaitu sebesar 1,92 juta rupiah per bulan.

BPS INDONESIA

Rata-rata upah/gaji sebulan dari buruh/karyawan/pegawai perempuan tertinggi terdapat pada sektor listrik, gas, dan air, yaitu sebesar 4,07 juta rupiah per bulan, sedangkan terendah pada sektor pertanian, yaitu sebesar 1,25 juta rupiah per bulan.

BACA JUGA78 Persen Penduduk Indonesia Terpusat di Jawa-Sumatera

Secara sektoral rata-rata upah/gaji sebulan dari buruh/karyawan/pegawai laki-laki cenderung lebih tinggi dibanding perempuan. Namun pada tiga sektor terjadi sebaliknya, yaitu pada sektor listrik, gas, dan air (laki-laki 3,90 juta rupiah dan perempuan 4,07 juta rupiah), sektor transportasi (laki-laki 3,28 juta rupiah dan perempuan 3,30 juta rupiah), serta sektor konstruksi (laki-laki 2,51 juta rupiah dan perempuan 2,63 juta rupiah).(*)

SUMBER: RILIS BPS INDONESIA 6 NOVEMBER 2017

DOWNLOAD DATA

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*