Perkembangan Sektor Kesehatan DKI Jakarta

INDIKATOR KESEHATAN JAKARTA
SUMBER: BPS DKI JAKARTA

Hal yang juga sangat penting dalam meningkatkan kualitas kesehatan adalah pemberian Air Susu lbu (ASI) pada bayi. Pemberian ASI merupakan investasi kesehatan di mana anak yang diberi ASI mempunyai kekebalan tubuh yang lebih baik dibandingkan yang tidak diberi ASI’

KESEHATAN menjadi salah satu indikator yang penting dalam menentukan keberhasilan pembangunan di suatu wilayah. Unsur ini menjadi salah satu pokok inti dalam penghitungan indeks pembangunan manusia (IPM). Lantas bagaimana perkembangan sektor kesehatan DKI Jakarta berdasar data terbaru?

Pemprov DKI Jakarta telah mencanangkan keberhasilan di bidang kesehatan sebagai salah satu tujuan pembangunan wilayah, antara lain terciptanya kualitas hidup masyarakat secara adil dan merata. Ukuran keberhasilan peningkatan kualitas hidup adalah tercapainya derajat kesehatan yang memadai.

BACA JUGAJumlah Penduduk Miskin DKI Jakarta Tahun 2017

Indikator yang menunjukkan perbaikan kualitas kesehatan antara lain adalah penurunan angka kematian bayi, peningkatan angka harapan hidup, serta persentase balita yang pernah diimunisasi.

INDIKATOR KESEHATAN JAKARTA
SUMBER: BPS DKI JAKARTA

Indikator kesehatan hasil Proyeksi Sensus Penduduk 2010 yaitu angka kematian bayi dan angka harapan hidup adalah angka indikator yang berlaku 5 tahunan mengikuti tahun sensus ataupun survei diantar sensus penduduk (SUPAS).

Indikator kesehatan untuk angka kematian bayi berada pada kisaran 18 dan 1000 kelahiran. Pada tahun 2015, angka kematian bayi laki-laki sebesar 22,40 Iebih tinggi dan kematian bayi perempuan sebesar 13,70.

Tingginya angka kematian bayi laki-laki berimplikasi pada rendahnya rata-rata angka harapan hidup (AHH) laki-laki dibandingkan perempuan. AHH Provinsi DKI Jakarta tahun 2016 mencapai 72,49 tahun. Artinya setiap bayi yang lahir akan mempunyai peluang hidup hingga umur 72-73 tahun.

Indikator lain untuk melihat derajat kesehatan penduduk adalah persentase penduduk yang mengalami keluhan kesehatan. Selama tahun 2013-2015 penduduk yang mengalami keluhan kesehatan menunjukkan tren meningkat, namun pada tahun 2016 penduduk yang mengalami keluhan kesehatan turun menjadi 30,45 persen.

KELUHAN KESEHATAN JAKARTA
SUMBER: BPS DKI JAKARTA

Hal ini mengindikasikan bahwa derajat kesehatan dan kepedulian penduduk DKI Jakarta terhadap kesehatan juga meningkat. Selain itu, fasilitas kesehatan juga semakin baik, apalagi saat ini sudah tidak dipungut biaya.

Jika dilihat berdasarkan gender, penduduk perempuan lebih banyak yang mengalami keluhan kesehatan (32,31 persen) dibandingkan penduduk laki-laki (28,62 persen).

Pemprov DKI Jakarta terus mengembangkan pelayanan kesehatan prima bagi warganya antara lain menyediakan fasilitas kesehatan selevel rumah sakit yaitu rumah sakit tipe D di 18 kecamatan dan puskesmas di setiap kelurahan.

BACA JUGAPerkembangan Sektor Pendidikan DKI Jakarta Tahun 2017

Dengan demikian, dan warga dapat dengan mudah menjangkau fasilitas kesehatan dan segi lokasi. Dan segi biaya, warga juga dapat menikmati pelayanan secara gratis menggunakan Kartu Jakarta Sehat (KJS mulai diterapkan di DKI Jakarta pada November 2012, pemegang KJS bisa berobat di seluruh Puskesmas dan 88 Rumah Sakit yang ditunjuk oleh Pemprov DKI Jakarta).

Upaya lainnya adalah peningkatan penolong kelahiran oleh tenaga medis. Selama tahun 2013- 2015, persentase persalinan yang ditangani tenaga medis semakin meningkat. Namun pada tahun 2016 menurun karena terdapat 1,19 persen yang ditolong oleh dukun.

PENOLONG KELAHIRAN JAKARTA
SUMBER: BPS DKI JAKARTA

Hal ini mengindikasikan turunnya kesadaran masyarakat untuk mengurangi risiko kematian bayi dan ibu, serta mempercayakan proses kelahirannya kepada tenaga medis.

Hal yang juga sangat penting dalam meningkatkan kualitas kesehatan adalah pemberian Air Susu lbu (ASI) pada bayi. Pemberian ASI merupakan investasi kesehatan di mana anak yang diberi ASI mempunyai kekebalan tubuh yang lebih baik dibandingkan yang tidak diberi ASI.

Upaya pemerintah dalam menyosialisasikan pentingnya ASI eksklusif mendapatkan respon positif. Pada tahun 2016, persentase balita di bawah dua tahun (umur 0-23 bulan) yang mendapat ASI minimal 6 bulan mencapai 64,72 persen, meningkat dibandingkan tahun lalu.

BACA JUGAIndeks Pembangunan Manusia IPM DKI Jakarta

Persentase bayi laki-laki yang mendapat ASI minimal 6 bulan lebih tinggi dibandingkan bayi perempuan. Peningkatan mi mengindikasikan meningkatnya edukasi dan kesadaran masyarakat akan pentingnya pemberian ASI bukan hanya bagi kesehatan anak namun juga bagi si ibu pemberi ASl.

Semakin banyaknya ruang laktasi di berbagai gedung perkantoran ikut membantu mendorong peningkatan statistik pemberian ASI terutama bagi ibu bekerja.

SUMBER: BPS DKI JAKARTA

Loading...

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*